Pelatihan Panen Lestari di desa penyangga Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

text dan foto : Hermanto

Pelatihan panen lestari dan paska panen higienis ini diinisiasi oleh lembaga Perkumpulan Payo – Payo yang didukung oleh Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF). Pelatihan ini bertujuan supaya para petani madu di dua desa, Desa Tompobulu dan Desa Bontobirao mampu melakukan metode panen yang dapat memelihara keberlangsungan hidup lebah hutan agar tetap bisa berproduksi secara berkelanjutan dan lestari.

Sebanyak 30 petani madu hutan yang menjadi peserta dalam pelatihan ini, dimana 15 orang berasal dari desa Tompubulu dan 15 orang peserta dari desa Bontobirao.

Pelatihan dibagi menjadi tiga sesi, sesi pertama adalah penyampaian materi dengan narasumber Hermanto, Direktur Jaringan Madu Hutan Indonesia. Sesi kedua adalah praktek panen lestari yang dilaksanakan di hutan. Sesi ketiga adalah pelatihan paska panen deng melakukan praktek paska panen yang higienis.

Setelah penyampaian materi, diskusi dan tanya jawab dengan peserta pelatihan selesai, dilanjutkan dengan pelatihan praktek panen lestari. Untuk panen lestari panitia, narasumber dan seluruh peserta yang hadir bersama-sama pergi ke hutan untuk praktek panen lestari.

Panen madu hutan dilakukan oleh bapak Dapir dari desa Bontobirao sedangkan pemilik sarang lebah adalah bapak Rami dari desa Tompobulu.

Salah satu yang menarik dari proses pemanenan madu hutan yang biasa dilakukan oleh masyarakat disana adalah mereka menggunakan dan menganyam daun kelapa untuk dijadikan wadah penampungan. Wadah tersebut dibawa ke atas pohon untuk menyimpan sarang lebah hutan yang telah dipanen yang mereka sebut dengan “Konre”. Alat pengasapan yang terbuat dari bambu kering dan dibungkus dengan daun yang masih hidup disebut dengan “Damu”.

Setelah proses praktek panen lestari selesai dilanjutkan dengan proses paska panen yang higienis yaitu dengan meniris sarang lebah madu hutan dan disaring menggunakan saringan nylon. Ada dua peserta yang melakukan proses penirisan sarang lebah madu hutan ini.

Karena dua desa ini berada di daerah perbukitan yang tinggi di kabupaten Pangkep maka biasanya kadar air madu hutan sangat rendah. Untuk madu hutan yang kami panen dalam praktek ini berwarna coklat tua dengan rasa manis dan sumber nectar dominannya berasal dari bunga pohon Enau dan Kemiri. Jumlah madu yang dipanen pada praktek panen ini setelah ditiris berjumlah 12 botol syrup.

Semoga dengan pelatihan panen lestari dan paska panen higienis ini nantinya bisa menjaga kualitas produk madu hutan yg dihasilkan, menjaga koloni lebah tetap lestari dan hutan selalu terjaga lingkungannya.

One thought on “Pelatihan Panen Lestari di desa penyangga Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *