Jmhi di Parara 2017

Panen Raya Nusantara yang kedua yg diadakan dari tanggal 13-15 Oktober 2017 kali ini bertempat di Taman Menteng, Jakarta Pusat. Event dua tahunan kali ini diikuti oleh berbagai penghasil produk baik makanan, kerajinan yang berasal dari alam. Menurut informasi dari panitia lebih kurang 85 lebih komunitas lokal dari seluruh nusantara yang meramaikan event Parara 2017 ini.

JMHI dengan dibantu oleh Dian Niaga Jakarta menempati stand yang berada di samping kanan panggung utama, bersebelahan dengan aspuk dan riak bumi. Produk produk madu hutan anggota JMHI dari beberapa daerah seperti Kalimantan, Sumatera, Sumbawa, Flores dan Banten dipajang dan juga dipasarkan selama event Parara 3 hari ini.

Parara secara resmi dibuka oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), Triawan Munaf. PARARA 2017 mengangkat tema Jaga Tradisi, Rawat Bumi, yang menunjukan bahwa kearifan leluhur bangsa Indonesia sudah terbukti berhasil dalam memanfaatkan sumber daya alam secara lestari dan mempertahankan alam sebagai bagian dari kehidupan komunitas dan bumi. Leluhur bangsa Indonesia dan komunitas adat sampai sekarang mengambil sumberdaya alam dengan memperhatikan keseimbangan dengan alam dan daya dukungnya agar SDA tersebut tetap ada dan bisa dinikmati oleh generasi di masa depan. Komunitas juga secara kolektif melakukan pengawasan akan kelestarian alam.

Melalui PARARA, kita diajak untuk kembali mempraktikan menjaga tradisi serta merawat bumi untuk kelestarian sumberdaya alam dan kesejahteraan.

Triawan Munaf menyambut baik PARARA 2017 yang mengedepankan dan memberi kesempatan produk-produk lokal Indonesia untuk dikenal lebih luas, tidak hanya oleh masyarakat tapi juga membuka peluang untuk promosi sehingga lebih dikenal bahkan hingga mancanegara. Ia menekankan agar komunitas segera mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) atau Indicator  Geographical (IG).

“PARARA 2017 adalah representasi dari ekonomi kreatif dari seluruh nusantara bisa terbangun kalau kita mempunyai HAKI yang diandalkan. Produk-produk kreatif disini jika tidak dilindungi oleh HKI atau IG, dikhawatirkan akan diambil oleh org yang tidak berhak. Jangan lupa didaftarkan, sehingga produk yang dikembangkan dapat terlindungi dan menjadi produk yang bernilai ekonomi. Itulah artinya nilai tambah, value chain,” pesan Kepala BEKRAF.

Ketua Konsorsium PARARA Jusupta Tarigan mengatakan PARARA bertujuan mendukung ekonomi komunitas lokal secara adil dan lestari dimana pengelolaan  produk komunitas lokal nantinya dapat mempertahankan kearifan lokal dan  lingkungan. Dengan melestarikan produk berbasis kearifan lokal, sekaligus memperkuat  identitas dan perekat bangsa. Apalagi Indonesia merupakan salah satu negara yang paling kaya dalam keanekaragaman hayati di dunia, sekaligus negara yang memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam.

“Mempromosikan produk komunitas dan meningkatkan akses pasar yang mampu menilai atau memberi reward produk tersebut dengan harga yang adil. Secara kualitas, produk lokal memiliki nilai dan potensi pasar yang mendunia. Kain tenun misalnya. Tenun tidak hanya menjadi warisan budaya, namun juga potensi wirausaha yang memiliki pasar di dalam dan juga luar negeri. Oleh karena itu, dibutuhkan perhatian kita untuk menjaga dan melestarikan produk-produk lokal Indonesia dan sekaligus komunitas produsen dan kearifan lokalnya,” ujar Jusupta Tarigan.

Selain produk kerajinan, PARARA juga mempromosikan pangan lokal Indonesia seperti sagu, sorgum dan pangan lainnya yang dapat mendukung kedaulatan pangan Indonesia. Sebagaimana kita tahu, Indonesia sebagai Negara agraris dan maritim, namun untuk kebutuhan pangan masih bergantung pada import. Demikian juga dengan kopi, sebagai komoditas lokal Indonesia yang memiliki kualitas bagus dimata dunia.

Setelah pembukaan, Bapak Triawan Munaf berkesempatan untuk berkeliling stand stand, salah satu nya mencicipi beberapa madu hutan dari anggota JMHI di stand JMHI.

Di Parara pengunjung bisa mencicipi madu hutan anggota JMHI lho

Festival Panen Raya Nusantara di selenggarakan oleh :
Konsorsium PARARA
NTFP-EP,WWF Indonesia, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), ASPPUK, JKTI, KEHATI, GEF SGP,Kemitraan, RECOFTC, Koperasi Produsen AMAN Mandiri (KPAM), Aliansi Organis Indonesia (AOI), Samdhana Institute, Jaringan Madu Hutan Nusantara (JMHI) , Jasa Menenun Mandiri, Sintang ,Yayasan Riak Bumi -Pontianak, Yayasan Dian Tama -Pontianak, Perkumpulan Indonesia Berseru (PIB), Rumah Organik, Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM),WARSI, Jambi , Yayasan Anak Dusun Papua (YADUPA) Jayapura, Yayasan Mitra Insani (YMI) Riau, Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS) Lampung, Yayasan Palung, KIARA, Yayasan Petak Danum, Yayasan Penabulu

referensi :
SIARAN PERS Pembukaan Panen Raya Nusantara 2017 – Menuju Ekonomi Komunitas Lokal Yang Adil dan Lestari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *